Nasehat Kyai Ahmad Dahlan Untuk Memajukan Muhammadiyah

Nasehat Kyai Ahmad Dahlan Untuk Memajukan Muhammadiyah

Toni Ardi Rafsanjani

Pdpmjepara.org – KH. Ahmad Dahlan lahir pada tahun 1868 di kauman, Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Muhammad Darwis. Ayahnya bernama KH. Abu bakar, seorang ulama dan khatib termuka di masjid besar kasultanan Yogyakarta. Dalam silsilah ia termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang pelopor pertama penyebaran Islam di tanha Jawa.
Sejak tahun 1905 ia banyak melakukan dakwah dan pengajian-pengajian yang mengajak umat Islam untuk berpikiran maju. Dalam perjalanan dakwahnya, kiyai Dahlan mulai mendapatkan murid yang kemudian diajak untuk berjuang mensyiarkan agama Islam. Para murid diajak untuk mencari anak jalanan yang tidak terawat dipinggir jalan Malyoboro, kemudian mereka di mandikan, diberi makan dan diberi materi oleh kiyai dahlan, layaknya seperti anak-anak priyai.
Muhammadiyah yang didirikan KH.A.Dahlan tidak hanya sebagai perkumpulan biasa, organisasi ini di bentuk untuk menyelesaikan permasalahan internal umat Islam dan negara. Sebelum mendirikan organisasi, Ahmad Dahlan berdialog dengan para kiyai dan pejabat ngarso dalem yang ada di Kauman untuk menyelesaikan masalah-masalah agama dan sosial, akan tetapi semua yang dilakukan tidak sesuai apa yang diharapkan, justru sebaliknya, kiyai Dahlan mendapatkan perlawanan dari para kiyai dan masyarakat sekitar. Melihat banyak perlawanan, kiyai Dahlan justru tetap bersemangat dan optimis untuk menyelamatkan umat dan meluruskan ajaran Islam.
Nasehat Kiyai Dahlan
Dalam menjalankan amalan-amalan yang diajarkan KH. A. Dahlan sendiri dalam bentuk pelajaran ataupun pesan-pesan yang disamapaikan kepada murid-muridnya: pesan Kiyai Dahlan yang pertama, “Saya akan belajar sepanjnag hayat”.
Ini adalah salah satu nasehat kiyai dahlan untuk dirinya sendiri, dan ia telah memenuhi kata-kata itu. Hampir sepanjang hidupnya ia terus belajar. Pendidikan kiyai Dahlan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masjid kemudian ke Makkah. Pada usia 15 tahun, ia menunaikan ibadah haji yang pertama dan bermukim di tanah suci sekitar lima tahun dengan mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, seperti al-qur’an, teologi, astronomi, dan hokum agama (Fiqh).
Pada ibadah haji yang kedua tahun 1902, kiyai Dahlan berusia 35 tahun bertemu dengan murid Muhammad Abduh, yakni Syaikh Muhammad Rasyid Ridla dan berdiskusi tentang berbagai persoalan agama dan problem yang dihadapi umat Islam. Saat itulah kiyai Dahlan mendapatkan kematangan berpikir dan mampu berijtihad dangan mendasarkan diri pada sumber aslinya (al-qur’an dan sunnah).
Maksud dari pelajaran pesan yang disampaikan oleh kiyai Dahlan ini tidak jauh dari pepatah yang mengatakan “ Utlubul ‘ilma wallau bissin” tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negri Cina. Pelajaran yang diberikan kiyai Dahlan dengan pepatah tersebut ada kesinambungan yaitu sama-sama menekankan kepada generasi muda, menuntut tanpa ada batasnya. Jika dilihat kaitanya dengan muahmmadiyah dengan nasehat tersebut, Muhammadiyah tidak akan dilestarikan jika para penerusnya tidak memliki ilmu pengetahuan yang sesuai harapan kiyai Dahlan. Sebagai generasi yang peduli kemajuan persyarikatan memang harus menguasai segala bentuk ilmu pengetahuan yang ada.
Nasehat yang kedua yaitu, “Membaca al-qur’an itu harus mengerti artinya, memahami maknanya, lalu laksanakannya. Bila Cuma menghafal tanpa melaksanakanya, lebih baik tak menambah bacaan surah”.
Nasehat yang disampaikan oleh Kiyai Dahlan yang sangat getol dengan al-ma’un dan dapat dijadikan sebagai salah satu langkah untuk memperdalam amalan-amalan yang telah diperbuat oleh Muhammadiyah.
Kiyai Dahlan menharapkan murid-muridnya untuk tidak terjebak pada pensakralan qur’an maupun ajaran yang baur dengan udaya local. Qur’an menjadi pajangan yang dikeramatkan. Semua itu motivas kiyai Dahlan untuk mendidik para muridnya membumikan al-qur’an. Sosok Dahlan adalah sosok man of action. Beliau berbeda dengan tokoh-tokoh pembaharu seperti A. hasan dan Ahhmad Surkati yang cukup produktif dalam dunia tulis menulis. Bagi kiyai Dahlan doktrin dan aksi harus menyatu. Bila di ukur dengan semangat zaman waktu itu kiyai Dahlan adalah seorang revolusioner.
Nasehat yang ketiga, “Usaha berjuang dan beramal tersebut aku lakukan dengan mendirikan persyarikatan yang aku beri nama Muhammadiyah. Dengan itu aku berharap kepada seluruh umat yang berjiwa Islam akan selalu tetap mencintai junjungan Nabi Muhammad dengan mengamalkan segala tuntunan dan perintahnya.”
Perjuangan yang dilakukan kiyai Dahlan Bersama murid semata-mata tidak untuk pribadi dan keluarganya tapi untuk kemajuan ummat dan negara, maka ssebagai pewaris kiyai Dahlan, kita terus melanjutkan apa yang sudah di contohkan kiya Dahlan dalam memajukan ummat.
Dalam memajukan ummat banyak sekali varian, Muhammadiyah saat ini sudah berkembang dengan amal usahanya sehingga di akui sekala nasional dan internasional. Tentu sebagai generasi penerus sangat bergembira sekali, akan tetapi kita punya tanggung jawab besar dalam menjaga nama besar Muhammadiyah. Dalam perkembangan zaman, tantangan Muhammadiyah sangatlah besar, nama Muhammadiyah yang sudah besar akan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan individu dan kelompok tertentu. Ini jangan sampai terjadi, organisasi Muhammadiyah adalah warisan yang harus diperjuangkan untuk mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *