Hari Anak Nasional Ditinjau Dari Fiqih Perlindungan Anak Persyarikatan Muhammadiyah Di Masa Pandemi

Hari Anak Nasional Ditinjau Dari Fiqih Perlindungan Anak Persyarikatan Muhammadiyah Di Masa Pandemi

pdpmjepara.org – Penulis : Deny Ana I’tikafia
PDA Jepara

Acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada Kamis (23/7/2020) bertepatan tanggal 2 Dzulhijjah 1441 H tetap akan digelar di tengah wabah virus corona ( Covid-19). “Semua kegiatan akan didesain dalam bentuk virtual pada tanggal 23 Juli, mulai jam 09.00 WIB hingga 10.30 WIB,” ujar Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) Nahar dalam diskusi di Graha BNPB, Jakarta. Peringatan HAN tahun 2020 ini diikuti seluruh provinsi di Indonesia dengan 750 partisipan melalui platform Zoom. “Jadi nanti kita dengar suara-suara anak dari berbagai tempat dan nanti akan juga diikuti oleh anak-anak dari seluruh provinsi,” kata Nahar. “Kemudian nanti melalui channel-channel lain di provider tertentu, kita akan live sehingga kita berharap banyak anak-anak juga yang bisa mengikuti acara itu dengan baik,” lanjutnya.

Isu yang dikedepankan pada peringatan HAN tahun ini adalah melindungi anak Indonesia dalam situasi darurat dan keadaan tertentu. Adapun tema yang dipilih, yakni “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema ini disesuaikan dengan wabah virus yang sedang terjadi di mana sekitar 79 juta anak Indonesia membutuhkan perlindungan khusus. Anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap penularan Covid-19. Selain dampak kesehatan, banyak dampak lain yang dihadapi.Selain itu, juga meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada masa pandemi ini. “Karena anak-anak di dalam situasi tertentu, dalam kondisi tertentu ini juga perlu kita perhatikan dan tetap harus dilindungi dengan harapan bahwa ketika kita bisa melindungi sama-sama anak-anak kita, kita bisa menyiapkan masa depan generasi penerus kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Nahar.

Menurut Prof.Alimatul Qibtiyah Ph.D Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan Aisyiyah Pimpinan Pusat Aisyiyah, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah : Anak dalam pandangan Muhammadiyah adalah seseorang yang belum berumur 18 tahun. Anak membutuhkan bimbingan dan peningkatan kapasitas serta perlindungan. Anak sebagai amanah Allah swt saat ini menghadapi banyak persoalan baik di dunia pendidikan pengasuhan maupun di area lainnya.
Sebagai landasan normatif : jangan meninggalkan generasi lemah, keluarga berkewajiban melindungi anggotanya dari api neraka. Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan dia akan seperti apa.
Kewajiban normatif kewajiban kemanusiaan
Pertama anak yang tangguh/sehat, bahagia/sejahtera dan kejujuran dalam perkataannya adalah sesuatu yang sangat ditekankan.
Kedua , neraka yang dimaksud pada QS At Tahrim (66):6 tidak hanya neraka di alam akhirat tetapi juga neraka dalam bentuk ketidaknyamanan di dunia ini. Oleh karena itu, anggota keluarga termasuk anak harus dilindungi dari penelantaran, eksploitasi, perundungan, diskriminasi, penyalahgunaan narkoba, perzinahan dan hal-hal buruk lainnya.
Ketiga, orang tua dan atau lembaga masyarakat harus memperhatikan pengembangan kapasitas, melindungi mereka dari hal-hal buruk baik keimanannya maupun kehidupannya. Subjek hukum yang berkewajiban melindungi anak adalah orang tua, keluarga berdasarkan urutan hak perwalian, negara dan masyarakat.

Persoalan anak saat Pandemi :
Berkurangnya kesejahteraan anak akibat orang tua kehilangan pendapatan, kesulitan mendapat layanan kesehatan dasar,kesulitan mengakses layanan pendidikan berkualitas (85% orang tua mengalami kendala dalam pembelajaran jarak jauh, 22% tidak memiliki peralatan pendukung, Terbatasnya dukungan bagi anak dengan disabilitas (83,3 ribu anak disabititas sulit mengakses informasi dan panduan kesehatan tentang covid-19), Kehilangan orang tua (60% kasus covid menyerang usia produktif dan memiliki anak), rentan terhadap kesehatan mental (46 responden orang tua mengatakan anaknya mengalami setidaknya dua dari masalah sulit berkonsentrasi, bingung, susah tidur, stress, mudah lelah dan kesepian), bertambahnya kesengsaraan bagi korban bencana alam (60-70 persen korban bencana di Indonesia adalah anak-anak, perempuan dan lansia)
Sumber:Penelitian Save the Children Indonesia (0-27April 2020.Survei dilakukan secara daring terhadap 11.989 orang tua/public, 4.689 guru negeri dan swasta , plus 883 responden lainnya.

Pengasuhan selama anak di rumah dan ortu bekerja di rumah.
Masih banyak budaya patriarkhi di masyarakat. Perempuan bekerja 4 kali lipat dari pada laki-laki dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah dengan durasi lebih dari 3 jam. Perempuan lebih rentan terpapar covid, karena banyak tenaga perempuan, lebih capek dan stress.
Ada sekitar 10,3% (235) hubungan dengan pasangannya semakin renggang, dimana mereka yang mempunyai status menikah lebih rentan daripada yang tidak menikah. Usia 31-40 tahun kelompok yang paling banyak menjawab bahwa hubungan dengan pasangan lebih tegang sejak pandemic COVID 19.

Tawaran Solusi :
Sosialisasi budaya yang egaliter dan berkemajuan terkait dengan pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan adalah yang sangat penting.Kerjasama antara sekolah, orang tua dan masyarakat (komite) dalam hal mencari solusi terbaik untuk kepentingan anak harus diikhtiarkan. Perhatian akan kesejahteraan anak baik karena orangtua meninggal terkena bencana wabah, karena kehilangan pekerjaan lebih detail dan merata.Tidak menumpahkan kecapekan , kekesalan dan persoalan ekonomi pada anak.Anak dapat di pahamkan dengan situasi yang ada dengan menggunakan bahasa yang abstrak.

Menurut Wawan Gunawan Abdul Wahid, LC, Mag, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, di Muhammadiyah tentang Perlindungan Anak, kekerasan seksual anak, masuk pada pembahasan fiqih Perlindungan anak. Naskah akademis sudah jadi tinggal menunggu di tanfidz kan.Entitas anak pada hakekatnya sama seperti manusia pada umumnya. Sesuai QS.Al Isro’ ayat 70 bahwa anak memiliki karomah insaniah sebagai keturunan dari nabi. Dalam ajaran agama islam diajarkan sebuah sikap memuliakan entitas anak sejak dalam rahim ibu. Paham dalam muhammadiyah beda dengan ormas
Lain bahwa ketika ovum bertemu sperma sejak itulah konsepsi, tidak menunggu sekian pecah menjadi nutfah.

Prinsip sosok pribadi yang bersih berupa fisik dan non fisik, berdasarkan Al Baqoroh ayat 222, bahwa Taharah sejak kecil sudah diajarkan, tentang hak reproduksi harus dijaga,tidak boleh ada orang lain meraba, baik anak laki-laki maupun perempuan.Kita sebagai orang tua harus mengajarkan anak tentang aurat, demi menjaga kemashlahatan anak itu sendiri dari ancaman kekerasan baik fisik maupun psikisnya.

Jepara, 23 Juli 2020 (2 Dzulhijah 1441 H).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *